Peretas Indonesia menyerang situs-situs Australia
kerinciilok.com - Jumat, 06 Desember 2013
Jakarta: Pascakasus penyadapan yang dilakukan Australia
terhadap sejumlah petinggi RI, pemerintah terlihat lamban merespon
bentuk pelanggaran yang terjadi. Reaksi dan luapan emosi yang lebih
spontan justru terlihat dari kalangan yang bergerak di dunia maya.
Beramai-ramai para peretas Indonesia menyerang situs-situs Australia.
Serangan-serangan siber itu tidak bermaksud merusak sistem operasi
situs-situs Australia.
Tindakan yang dikenal sebagai cyber attack tersebut hanya bertujuan
untuk menunjukkan eksistensi dan kemampuan kaum muda Indonesia untuk
mengusik 'kenyamanan' negara tetangga dibelahan selatan nusantara itu.
Tindakan para peretas muda itu disatu sisi menunjukkan terusiknya
nasionalisme anak bangsa. Namun, disisi lain, serangan siber itu memicu
terjadinya serangan balasan dari pihak Australia terhadap sejumlah situs
Indonesia. Kondisi ini akhirnya meletupkan perang siber kecil antara
kedua negara yang menunjukkan infrastruktur IT Indonesia belum siap
untuk menangantisipasi potensi kondisi di atas.
Fakta-fakta diatas mendorong Komunitas Gita Indonesia bersama Indonesia
Cyber Defence Institute (ICDI) Yogyakarta menggelar diskusi yang
menghadirkan kalangan blogger dan komunitas kreatif Yogyakarta bertempat
di Plataran Mataram, Jalan Veteran, Umbulharjo, Yogyakarta, Kamis
(5/12) silam.
Diskusi ini menghadirkan dua narasumber berkompeten, yakni Pepih
Nugraha (pengelola Kompasiana), Imanuel More (pengamat politik Akar
Rumput Strategic Consulting – ARSC) dan Aat Sadewa (Peneliti Senior
Indonesia Cyber Defence Institute – ICDI) dengan mengambil tema
"Memperjuangkan Indonesia di Dunia Maya".
Pepih yang juga redaktur harian Kompas ini menilai di era globalisasi
ini perang siber memang tak bisa dihindari lagi. Indonesia juga
merupakan pasar sekaligus pemain yang sangat potensial di dunia IT.
Saat ini perang non konvensional seperti halnya perang siber harus
menjadi salah satu kekuatan Indonesia. Apalagi anak-anak muda Indonesia
cukup berbakat untuk menguasai sektor IT ini.
Sementara pengamat politik Imanuel More dari ARSC menilai kebangkitan
partisipasi para peretas dalam isu-isu public tidak terhindarkan di era
demokrasi. “Keberadaan sosial media sebagai salah satu aspek
keterlibatan publik menjadi signifikan ketika institusi-institusi
demokrasi tidak bekerja baik dalam membela kepentingan nasional," kata
More melalui siaran pers yang diterima.
Pada tingkat domestik, kebangkitan mereka terlihat ketika menyerang dan
mengkritisi para pemimpin lokal atau nasional yang tidak becus dan tidak
populer. “Sementara, pada tingkat internasional, keterlibatan mereka
muncul ketika melihat negara melemah saat membela kepentingan dan
kebanggaan kita sebagai suatu Negara-bangsa“, jelas More.
Sementara itu, peneliti senior ICDI, Aat Sadewa menilai agar sebaiknya
negara segera memperhatikan para pelaku perang siber di Indonesia.
Pelaku siber juga sebaliknya untuk bisa menahan diri untuk tidak
menyerang negara lain.
“Sudah saatnya Negara mulai merangkul dan memfasilitasi
kelompok-kelompok peretas dan pelaku perang siber untuk menyatukan
kekuatan, agar mereka tidak bertindak sporadis dan partikularistik,
serta agar energi mereka dialihkan justru untuk memperkuat sistem
pertahanan IT Indonesia sendiri, bukan menyerang Negara lain”.
Aat mengingatkan hal ini penting untuk diprioritaskan mengingat citra
para peretas Indonesia yang kerap negatif di mata komunitas
internasional karena sering mengganggu atau menghancurkan sistem orang
lain dibanding membangun atau meningkatkan inovasi sistem pertahanan IT
kita sendiri.
Gita Indonesia adalah jaringan strategis masyarakat sipil organik yang
bertujuan untuk mengadvokasi kepentingan nasional dari berbagai aspek
khususnya di era globalisasi. Koordinator Gita Indonesia, Reza Fahlevi
menyatakan, organisasinya memulai gerakannya dari Yogyakarta mengingat
kota tersebut adalah basis kekuatan kaum republikan ( Metronews )