Jumat, 04 April 2025 | 14:51 WIB
Follow Us: Facebook twitter
  • Home
  • artikel » Pengamat: Data yang Disadap Australia Bukan Kategori Sangat Rahasia

Pengamat: Data yang Disadap Australia Bukan Kategori Sangat Rahasia

kerinciilok.com - Kamis, 21 November 2013

Jakarta. Penyadapan Badan Intelijen Australia (DSD) terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, istrinya, dan para pejabat tinggi RI lainnya menyebabkan hubungan bilateral kedua negara jatuh ke titik terendah. Namun kedua belah pihak diminta untuk tetap berkepala dingin.

Pengamat intelijen, Wawan Purwanto, menyatakan, Badan Intelijen Negara (BIN) sesungguhnya telah melakukan kontra-intelijen untuk mencegah kebocoran data penting milik negara. “BIN selama ini bekerja. Penyadapan oleh asing memang benar terjadi, namun informasi yang disadap bukan masuk kategori rahasia atau sangat rahasia,” kata dia di Jakarta, 21 November 2013.

Wawan mengatakan, informasi yang disadap Australia hanya masuk kategori informasi terbuka atau informasi biasa. “Bagian yang sifatnya rahasia dan sangat rahasia jumlahnya hanya 10 persen. Itulah kerahasiaan yang selama ini dilindungi intelijen kita,” ujarnya.

Sebanyak 90 persen informasi lainnya, kata Wawan, bersifat terbuka dan itulah yang disadap oleh Australia. Oleh sebab itu ia meminta masyarakat tidak meragukan kerja BIN.

Menurut Wawan, BIN justru berhasil membongkar penyadapan informasi oleh pihak asing sebelum hal itu dibocorkan oleh Edward Snowden ke publik. Snowden adalah mantan kontraktor Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS) yang membocorkan berbagai dokumen intelijen. Buron nomor satu AS itu kini berdiam di Rusia, negara yang memberinya suaka.

Sementara itu, pakar hukum internasional UI Hikmahanto Juwana mengimbau pemerintah RI untuk tidak gegabah menanggapi skandal penyadapan oleh DSD. Apalagi Indonesia belum mengetahui motif Snowden yang sebenarnya dalam membocorkan data intelijen tersebut.

“Snowden mungkin sedang bereksperimen, apakah orang yang memegang banyak rahasia negara dapat memanfaatkan informasi tersebut untuk mengadu domba berbagai negara di dunia, terutama antara AS dan sekutunya – termasuk Australia – dengan negara-negara lain,” kata dia.

AS dan Rusia

Seperti diketahui, di tengah krisis diplomatik Indonesia dan Australia, Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop menggelar pertemuan tahunan Australia-United States Ministerial Consultation (AUSMIN) di Washington DC. Dalam kesempatan itu, seperti dilansir Sydney Morning Herald, AS tidak sanggup menjamin tak bakal ada dokumen lain yang dibocorkan Snowden.

Pertemuan Australia-AS itu menghasilkan kesepakatan penambahan pasukan marinir AS ke Darwin. Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel menyatakan akan mengerahkan 1.100 tentara ke utara Australia mulai tahun 2014.

Pada saat yang sama di Jakarta, parlemen Indonenesia menerima kunjungan parlemen Rusia. Negeri Beruang Merah menyatakan simpati dan dukungannya pada Indonesia dalam menghadapi isu spionase oleh Australia dan AS. Dalam dokumen awal yang dibocorkan Snowden, Australia disebut mengintai RI dengan bantuan NSA.

Kedatangan parlemen Rusia ke DPR ini berbarengan dengan rencana Komisi I DPR terbang ke Rusia untuk menemui Edward Snowden. Komisi I yang membidangi pertahanan keamanan, intelijen, luar negeri, dan komunikasi informatika itu hendak mengorek informasi lebih dalam dari Snowden mengenai berbagai aksi spionase terhadap Indonesia. Snowden diyakini memegang lebih banyak dokumen rahasia daripada yang telah ia ungkapkan.
Sumber : VIVAnews 

Berikan Komentar

Copyright © 2013 All rights reserved - Designed by Kadral hadi Kembali Ke Atas